Kita masih lagi lena diulit mimpi
sedang tupai sudah melompat
dari pokok ke pokok
demi mencari rezeki Ilahi
di kala mentari sudah terik
memancar cahaya seluruh alam
kita tak lagi terhidu
panggilan rahmat
tenggelam dalam
tak tersedar
dan hari tidak menanti kita
kerna ia tetap melabuhkan
tirainya di kala senja
dan berharap sinar pagi
kan muncul keesokannya
kita masih tak tersedar
walau di tiap tika
segalanya telah datang
dan pasti kan terlepas
pergi
Wednesday, February 26, 2014
Wednesday, January 1, 2014
hela nafas
Di celahan hutan konkrit ini
kunantikan hari melabuhkan tirainya
bertemankan secawan kopi
sebatang rokok dan korek api
suasana petang diiringi
deru angin lepas hujan
langit melepaskan hela nafasnya
setelah melepaskan gugurnya hujan
ke tanah dan lembah yang berharap
di celahan hutan konkrit ini
kusemadikan perginya sebuah alam
dalam kesempitannya bernafas
terjerat tak berganjak
tenggelam ke lembah kelam
kunantikan hari melabuhkan tirainya
bertemankan secawan kopi
sebatang rokok dan korek api
suasana petang diiringi
deru angin lepas hujan
langit melepaskan hela nafasnya
setelah melepaskan gugurnya hujan
ke tanah dan lembah yang berharap
di celahan hutan konkrit ini
kusemadikan perginya sebuah alam
dalam kesempitannya bernafas
terjerat tak berganjak
tenggelam ke lembah kelam
Tuesday, August 6, 2013
harap di hati melara ke pinggir
datang perindu memujuk merayu
pergilah hati merangka syair
moga perindu setia menunggu
hujan tak jadi hati mengeluh
hari yang kering mengongkong jiwa
hadirnya disisi peneman berteduh
mengubat duka mengubat lara
berangkat sudah jiwa berdagang
sayunya hati sendiri tertawa
sukarlah hati untuk bertandang
hadirlah perindu setia menyapa
lumrah alam hidup berjauhan
kembara alam memburu ilmu
walau jauh jasad berpergian
ingatlah hati ada yang merindu
datang perindu memujuk merayu
pergilah hati merangka syair
moga perindu setia menunggu
hujan tak jadi hati mengeluh
hari yang kering mengongkong jiwa
hadirnya disisi peneman berteduh
mengubat duka mengubat lara
berangkat sudah jiwa berdagang
sayunya hati sendiri tertawa
sukarlah hati untuk bertandang
hadirlah perindu setia menyapa
lumrah alam hidup berjauhan
kembara alam memburu ilmu
walau jauh jasad berpergian
ingatlah hati ada yang merindu
Saturday, July 27, 2013
Nanti
Di bawah pohon yang rendang ini
ku nantikan
gugurnya langit
gempanya bumi
Bukankah hidup ini suatu penantian?
Di bawah pohon ini
ku cakarkan pada kulitnya
catatan persinggahanku
di bumi yang kian merapuh ini
(moga jiwa ini pulang sebelum waktunya)
dan moga cakaran ini
kan menjadi
buah ingatan buat
mereka yang lupa
ku nantikan
gugurnya langit
gempanya bumi
Bukankah hidup ini suatu penantian?
Di bawah pohon ini
ku cakarkan pada kulitnya
catatan persinggahanku
di bumi yang kian merapuh ini
(moga jiwa ini pulang sebelum waktunya)
dan moga cakaran ini
kan menjadi
buah ingatan buat
mereka yang lupa
Sunday, July 7, 2013
malam
Pada malam
ku rayukan hati ini
berteman resah awan
yang melitupi gentarnya lara
lalu hati mendungak
ke langit rapuh
mengharapkan turunnya
gersang hujan
nanti bila
fajar menyinsing
segalanya kan menghilang
pergi
ku rayukan hati ini
berteman resah awan
yang melitupi gentarnya lara
lalu hati mendungak
ke langit rapuh
mengharapkan turunnya
gersang hujan
nanti bila
fajar menyinsing
segalanya kan menghilang
pergi
Subscribe to:
Posts (Atom)