Mata Ayah "Kujabat mesra tangan ayah urat-urat daging-daging tua keras terasa mataku tersenyum, matanya menyapa anak yang pulang disambut mesra. Tapi matanya, mata yang menatapku kolam-kolam derita dan pudar bulan pagi garis-garis putih lesu melingkungi hitam-suram suatu kelesuan yang tak pernah dipancharkan dulu. Kelibat senyum matanya masih jua ramah akan menutup padaku kelesuan hidup sendiri bagai dalam suratnya dengan kata-kata riang memintaku pulang menikmati beras baru. Anak yang pulang disisi ayahnya, maka akulah merasakan kepedihan yang terchermin dimata meski kain pelekatnya bersih dalam kesegaran wudhu' dan ia tidak pernah merasa, sebab derita itu adalah dia." Oktober 1964 Usman Awang Duri dan Api Sajak-sajak Pilihan 1961-1966 Usman Awang Perchetakan Abadi, Petaling Jaya. Toko Buku Abbas Bandong 33, Jalan Laksamana, Melaka.
Monday, June 10, 2019
Selagi berada di bumi tuhan, syukur selalu kembali bertemu.
Sebuah penghormatan untuk lagu Berada oleh Aman RA ft. Altimet & Noh Salleh
Sunday, June 9, 2019
Ketupat dianyam saling menyatu, Sebagai tanda suci lebaran; Bersyukur kita pada Yang Satu, Syawal dirai penuh keriangan.
Monday, May 13, 2019
"Tiga ratus pendekar enam puluh hantu, tujuh lekuk sakti-ku mari tikam batu; lidahku kerisku menari-menari, keris bukan sebarang keris namanya Taming Sari." Khayal (unreleased) OK Malique August 2008