Wednesday, October 31, 2018

Di tiap denyut nadi

Gerimis pagi iringi subuh,
Bayu memeluk mentari megah,
Buah hatiku setia nan teguh,
Pengarang jantungku degupan indah.

Wednesday, October 3, 2018

Pabila Ayahanda dan Bonda Berpesan

Jika hadir dengan sopan
Bertutur pula dengan lakunya
Hendak ditolak ia harapan
Ditunaikan lah sedaya mampu.


Apa di harap sumbu di ladang
Risik merisik budaya Melayu
Beriring pasangan manis di pandang
Bunga disunting harap tak layu.
 

Merisik sudah bertunang pun sudah
Ijab qabul mengalir peluh
Makan berdamai malu malu
Ziarahi ipar duai amat perlu.


Langit gelap hujan tak jadi
Anak berudu main di lopak
Usah dihitung taburnya budi
Lipat dihati supaya tak nampak

Segak tanjak hias jemala
Duduk bersilang keris di pinggang
Adatnya yang tua adakan segala
Agar teruna tak lama membujang

Jeruk mengkuang di buat tikar
Kelarai di jemur atas tanah
Anakanda berdua udah berikrar
Bahagia di lakar hingga ke Jannah


Tegak berdiri bergandingan
Baju laram warna sedondon
Manis manja berpegangan tangan
Hati-hati meniti jangan tersadong


Buat Ayahanda Cikgu Omar dan Bonda Su,
Semoga Allah S.W.T merahmati selalu. 

Tuesday, August 14, 2018

قُرَّةَ أَعْيُنٍ

Terbitnya hari di kala tenang
seakan faham jiwa merindu
hajat dijunjung niat ditatang
menyunting bunga mekar menyatu

Bunganya mahsyur harum semesta
di tiap pandang tenang mendamping
manis menyegar hati setia
pinang di belah cantik seiring

Pandang matamu tenang setia
tingkah bicara mendamaikan hati
suri hatiku hingga ke syurga
berpimpin tangan menuju abadi

Janji diikat setia disemai
kasih dijalin indah abadi
hendaknya hati saling membelai
jiwa berpadu bahagia menanti

Waspadalah kita menongkah arus
rencah hidup lumrah dunia
padaNya jualah doa diutus
padaNya segala ampun dipinta


Kekasih hatiku mahsyur namamu
Ku puja selalu di kala rindu

Monday, July 30, 2018

Cuaca by Margasatwa

Sandarkan risaumu kebahuku
Kuatku
kerana kuatmu

akan seantero kekangan
segenap halangan 

aku kan ada
senantiasa

menembak mati
lukamu

ku tahu
peritnya kau lalu 

Margasatwa
Rentak Bitara 
2017

Monday, July 23, 2018

Surat kepada Bunda tentang Calon Menantunya | WS Rendra

Mamma yang tercinta,  
akhirnya kutemukan juga jodohku  
seseorang yang bagai kau:  
sederhana dalam tingkah dan bicara  
serta sangat menyayangiku.


Terpupuslah sudah masa-masa sepiku. 
Hendaknya berhenti gemetar rusuh  
hatimu yang baik itu  
yang selalu mencintaiku.  
Kerna kapal yang berlayar  
telah berlabuh dan ditambatkan.  
Dan sepatu yang berat serta nakal  
yang dulu biasa menempuh  
jalan-jalan yang mengkhawatirkan  
dalam hidup lelaki yang kasar dan sengsara,  
kini telah aku lepaskan  
dan berganti dengan sandal rumah  
yang tenteram, jinak dan sederhana.


Mamma,  
Burung dara jantan yang nakal  
yang sejak dulu kau piara  
kini terbang dan menemu jodohnya.  
Ia telah meninggalkan kandang yang kau buatkan  
dan tiada akan pulang  
buat selama-lamanya.  
Ibuku,  
Aku telah menemukan jodohku.  
Janganlah kau cemburu.  
Hendaknya hatimu yang baik itu mengerti:  
pada waktunya aku mesti kau lepaskan pergi.


Begitu kata alam. Begitu kau mengerti:  
Bagai dulu bundamu melepas kau  
kawin dengan ayahku. Dan bagai  
bunda ayahku melepaskannya  
untuk mengawinimu.  
Tentu sangatlah berat.  
Tetapi itu harus, Mamma!  
Dan akhirnya tak akan begitu berat  
apabila telah dimengerti  
apabila telah disadari.


Hari Sabtu yang akan datang  
aku akan membawanya kepadamu.  
Ciumlah kedua pipinya
dan panggillah ia dengan kata: Anakku!


Bila malam telah datang  
kisahkan padanya  
riwayat para leluhur kita  
yang ternama dan perkasa.  
Dan biarkan ia nanti  
tidur di sampingmu.


Ia pun anakmu.  
Sekali waktu nanti  
ia akan melahirkan cucu-cucumu.  
Mereka akan sehat-sehat dan lucu-lucu.  
Dan kepada mereka  
ibunya akan bercerita  
riwayat yang baik tentang nenek mereka:  
bunda-bapak mereka.


Ciuman abadi  
dari anak lelakimu yang jauh,




WS Rendra  
Buku: Stanza dan Blues – Malam Stanza