Jika hadir dengan sopan
Bertutur pula dengan lakunya
Hendak ditolak ia harapan
Ditunaikan lah sedaya mampu.
Apa di harap sumbu di ladang
Risik merisik budaya Melayu
Beriring pasangan manis di pandang
Bunga disunting harap tak layu.
Merisik sudah bertunang pun sudah
Ijab qabul mengalir peluh
Makan berdamai malu malu
Ziarahi ipar duai amat perlu.
Langit gelap hujan tak jadi
Anak berudu main di lopak
Usah dihitung taburnya budi
Lipat dihati supaya tak nampak
Segak tanjak hias jemala
Duduk bersilang keris di pinggang
Adatnya yang tua adakan segala
Agar teruna tak lama membujang
Jeruk mengkuang di buat tikar
Kelarai di jemur atas tanah
Anakanda berdua udah berikrar
Bahagia di lakar hingga ke Jannah
Tegak berdiri bergandingan
Baju laram warna sedondon
Manis manja berpegangan tangan
Hati-hati meniti jangan tersadong
Buat Ayahanda Cikgu Omar dan Bonda Su,
Semoga Allah S.W.T merahmati selalu.
Wednesday, October 3, 2018
Tuesday, August 14, 2018
قُرَّةَ أَعْيُنٍ
Terbitnya hari di kala tenang
seakan faham jiwa merindu
hajat dijunjung niat ditatang
menyunting bunga mekar menyatu
Bunganya mahsyur harum semesta
di tiap pandang tenang mendamping
manis menyegar hati setia
pinang di belah cantik seiring
Pandang matamu tenang setia
tingkah bicara mendamaikan hati
suri hatiku hingga ke syurga
berpimpin tangan menuju abadi
Janji diikat setia disemai
kasih dijalin indah abadi
hendaknya hati saling membelai
jiwa berpadu bahagia menanti
Waspadalah kita menongkah arus
rencah hidup lumrah dunia
padaNya jualah doa diutus
padaNya segala ampun dipinta
Kekasih hatiku mahsyur namamu
Ku puja selalu di kala rindu
seakan faham jiwa merindu
hajat dijunjung niat ditatang
menyunting bunga mekar menyatu
Bunganya mahsyur harum semesta
di tiap pandang tenang mendamping
manis menyegar hati setia
pinang di belah cantik seiring
Pandang matamu tenang setia
tingkah bicara mendamaikan hati
suri hatiku hingga ke syurga
berpimpin tangan menuju abadi
Janji diikat setia disemai
kasih dijalin indah abadi
hendaknya hati saling membelai
jiwa berpadu bahagia menanti
Waspadalah kita menongkah arus
rencah hidup lumrah dunia
padaNya jualah doa diutus
padaNya segala ampun dipinta
Kekasih hatiku mahsyur namamu
Ku puja selalu di kala rindu
Monday, July 30, 2018
Cuaca by Margasatwa
Sandarkan risaumu kebahuku
Kuatku
kerana kuatmu
akan seantero kekangan
segenap halangan
aku kan ada
senantiasa
menembak mati
lukamu
ku tahu
peritnya kau lalu
Margasatwa
Rentak Bitara
2017
Kuatku
kerana kuatmu
akan seantero kekangan
segenap halangan
aku kan ada
senantiasa
menembak mati
lukamu
ku tahu
peritnya kau lalu
Margasatwa
Rentak Bitara
2017
Monday, July 23, 2018
Surat kepada Bunda tentang Calon Menantunya | WS Rendra
Mamma yang tercinta,
akhirnya kutemukan juga jodohku
seseorang yang bagai kau:
sederhana dalam tingkah dan bicara
serta sangat menyayangiku.
akhirnya kutemukan juga jodohku
seseorang yang bagai kau:
sederhana dalam tingkah dan bicara
serta sangat menyayangiku.
Terpupuslah sudah masa-masa sepiku.
Hendaknya berhenti gemetar rusuh
hatimu yang baik itu
yang selalu mencintaiku.
Kerna kapal yang berlayar
telah berlabuh dan ditambatkan.
Dan sepatu yang berat serta nakal
yang dulu biasa menempuh
jalan-jalan yang mengkhawatirkan
dalam hidup lelaki yang kasar dan sengsara,
kini telah aku lepaskan
dan berganti dengan sandal rumah
yang tenteram, jinak dan sederhana.
Hendaknya berhenti gemetar rusuh
hatimu yang baik itu
yang selalu mencintaiku.
Kerna kapal yang berlayar
telah berlabuh dan ditambatkan.
Dan sepatu yang berat serta nakal
yang dulu biasa menempuh
jalan-jalan yang mengkhawatirkan
dalam hidup lelaki yang kasar dan sengsara,
kini telah aku lepaskan
dan berganti dengan sandal rumah
yang tenteram, jinak dan sederhana.
Mamma,
Burung dara jantan yang nakal
yang sejak dulu kau piara
kini terbang dan menemu jodohnya.
Ia telah meninggalkan kandang yang kau buatkan
dan tiada akan pulang
buat selama-lamanya.
Ibuku,
Aku telah menemukan jodohku.
Janganlah kau cemburu.
Hendaknya hatimu yang baik itu mengerti:
pada waktunya aku mesti kau lepaskan pergi.
Burung dara jantan yang nakal
yang sejak dulu kau piara
kini terbang dan menemu jodohnya.
Ia telah meninggalkan kandang yang kau buatkan
dan tiada akan pulang
buat selama-lamanya.
Ibuku,
Aku telah menemukan jodohku.
Janganlah kau cemburu.
Hendaknya hatimu yang baik itu mengerti:
pada waktunya aku mesti kau lepaskan pergi.
Begitu kata alam. Begitu kau mengerti:
Bagai dulu bundamu melepas kau
kawin dengan ayahku. Dan bagai
bunda ayahku melepaskannya
untuk mengawinimu.
Tentu sangatlah berat.
Tetapi itu harus, Mamma!
Dan akhirnya tak akan begitu berat
apabila telah dimengerti
apabila telah disadari.
Bagai dulu bundamu melepas kau
kawin dengan ayahku. Dan bagai
bunda ayahku melepaskannya
untuk mengawinimu.
Tentu sangatlah berat.
Tetapi itu harus, Mamma!
Dan akhirnya tak akan begitu berat
apabila telah dimengerti
apabila telah disadari.
Hari Sabtu yang akan datang
aku akan membawanya kepadamu.
Ciumlah kedua pipinya
dan panggillah ia dengan kata: Anakku!
aku akan membawanya kepadamu.
Ciumlah kedua pipinya
dan panggillah ia dengan kata: Anakku!
Bila malam telah datang
kisahkan padanya
riwayat para leluhur kita
yang ternama dan perkasa.
Dan biarkan ia nanti
tidur di sampingmu.
kisahkan padanya
riwayat para leluhur kita
yang ternama dan perkasa.
Dan biarkan ia nanti
tidur di sampingmu.
Ia pun anakmu.
Sekali waktu nanti
ia akan melahirkan cucu-cucumu.
Mereka akan sehat-sehat dan lucu-lucu.
Dan kepada mereka
ibunya akan bercerita
riwayat yang baik tentang nenek mereka:
bunda-bapak mereka.
Sekali waktu nanti
ia akan melahirkan cucu-cucumu.
Mereka akan sehat-sehat dan lucu-lucu.
Dan kepada mereka
ibunya akan bercerita
riwayat yang baik tentang nenek mereka:
bunda-bapak mereka.
Ciuman abadi
dari anak lelakimu yang jauh,
dari anak lelakimu yang jauh,
WS Rendra
Buku: Stanza dan Blues – Malam Stanza
Buku: Stanza dan Blues – Malam Stanza
Tuesday, July 3, 2018
ٱلْـحَـمْـدُ للهِ
Lelahku telah rebah
dan penatku terhembus
nafas ini menyegar
bersama hujan petang
yang mengiringi khabar berita
nan indah dan gembira
walau kilatnya menyabung
dan guruh pun berderau
seolah sorak gemilang
memecah terik mentari
berteman secawan kopi
syukur ini dirai.
dan penatku terhembus
nafas ini menyegar
bersama hujan petang
yang mengiringi khabar berita
nan indah dan gembira
walau kilatnya menyabung
dan guruh pun berderau
seolah sorak gemilang
memecah terik mentari
berteman secawan kopi
syukur ini dirai.
Subscribe to:
Posts (Atom)